Jumat, 31 Maret 2017

Akhirnya Donor Darah

Jadi, udah jadi cita - cita sejak kelas 2 SMA (around 2013) untuk bisa jadi pendonor darah tetap, tapi sayangnya, saat itu gue belum genap 17 tahun. FYI, untuk yang belum tau syarat untuk bisa donor darah, ini infonya

 

Syarat Donor Darah (Dasar)

·      Usia minimal 17 tahun

·      Berat Badan Minimal 45 kg untuk pria dan wanita.

·      Tekanan Darah Normal, yakni tekanan sistol = 100-150 mmHg dan tekanan diastol = 70 – 100 mmHg Denyut nadi teratur dengan Frekuensi  50 – 100 kali/ menit.

·      Kadar Haemoglobin (Hb) wanita minimal 12 gram%, pria minimal 13 gram%.

Orang dengan kondisi berikut ini tidak memenuhi syarat donor darah:

·      Penyakit jantung atau paru-paru (Donor yang memiliki asma, tapi tanpa gejala asma boleh donor darah)

·      Tekanan darah tinggi dalam pengobatan

·      Diabetes dalam pengobatan

·      Setelah Operasi besar (dapat mendonorkan darahnya setelah 12 bulan)

·      AIDS atau gejala AIDS, seperti demam yang tidak dapat dijelaskan, keringat malam berat, penurunan berat badan yang tak terduga, pembesaran kelenjar, diare kronis.

·      Epilepsi

·      Hepatitis B atau C

·      Sipilis

Orang dengan kondisi berikut ini tidak memenuhi syarat donor darah untuk sementara waktu:

·      Common cold (demam), flu atau radang tenggorokan, tunggu satu minggu setelah pemulihan atau sembuh

·      Ekstraksi gigi atau perawatan gigi, tunggu 3 hari setelah pengobatan Infeksi kulit (minor), tunggu 1 minggu setelah penyembuhan lengkap.

·      Kehamilan normal, silakan menunggu selama 6 minggu setelah melahirkan dan ketika Anda tidak menyusui.

·      Bepergian ke daerah endemis malaria seperti daerah pedesaan di Malaysia, Thailand, Indonesia, dll, silakan tunggu 6 minggu sampai 3 tahun dan meminta saran dokter apakah anda memenuhi syarat donor darah

·      Kontak dengan Penderita Hepatitis B, tunggu 12 bulan dan setelah melakukan vaksinasi lengkap hepatitis B (dan menunjukkan respon antibodi yang memuaskan)

·      Penyakit Menular misalnya Cacar air, Campak, Demam Berdarah, tunggu 6 bulan setelah pemulihan

Kaitannya dengan Obat-obatan

Orang yang mengonsumsi obat untuk pengobatan kanker, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes atau infeksi saat ini tidak akan diterima sebagai donor darah. Bagi mereka yang memakai:

·      Obat Tradisional : Tunggu 3 hari baru bisa donor darah.

·      Antibiotik : Tunggu 1 minggu baru bisa donor darah.

·      Obat anti-malaria : Tunggu 4 minggu baru bisa donor darah.

Sumber : http://mediskus.com/kb/syarat-donor-darah

Nah, pas gue 17 tahun, gue beranikan diri untuk donor darah. Dengan gagahnya, gue dari rumah otw ke Bandar Lampung untuk donor, dan rencananya donor hari itu untuk pasien thalassemia. Tapi sayangnya, pasien tersebut udah dapet pendonor yang lebih cepat, dan karena gue ga ngerti prosedur donor itu gimana, gue yang udah sampai di depan UDD PMI Bandar Lampung pun akhirnya memutuskan pulang. Haha cemen yaa guee~

Selang dua bulan, gue masih penasaran sama donor darah. Keinginan gue pun gue post di twitter, berharap bakal nemu kawan untuk donor bareng. Dan, yak, gue dapet barengan untuk donor, si Athifah a.k.a Ipeh. Oh iya, saat itu tuh lagi di bulan Ramadhan gitu pokoknya. Walaupun lemes lemes dikit, gue tetap memaksakan diri untuk donor. “sebagai wujud rasa syukur gue, karena gue pada akhirnya bisa kuliah, dan menyelesaikan seluruh proses administrasi dengan ajaib” pikir gue saat itu. Berdua dengan Ipeh, gue pun pede masuk ke ruang dinir darah. Pertama isi form dulu, terus ngebawa form itu ke meja registrasi, untuk di cek golongan darah dan Hb nya. Waktu cek golongan darah, gue pun mendapati golongan darah gue adalah A. Lanjut ke tes Hb, ternyata Hb gue amat sangat tidak memenuhi standar. Karena cek nya masih manual, jadi gue ga tau pasti berapa nilai Hb gue, yang jelas tetesan darah gue mengambang dengan indah tengah tengah cairan berwarna bening itu. Gue mendadak lemas, dan sedih. Ditambah rasa iri pula karena Ipeh, berhasil donor -_-“ Dari situ gue pun ga nyerah. Gue mikir, mungkin efek puasa. Gue laper, makanya Hb gue rendah. Yasudahlahya~

Dua bulan kemudian, gue pun kembali membangkitkan niat untuk donor darah. Saat itu statusnya gue masih sebagai mahasiswa baru di kampus gue ini. Long story short, niatan gue disambut baik sama kawan gue, Risca, dan kita pun langsung otw ke PMI. Begitu gue sampai di PMI, gue kembali mengulangi pola itu; isi form, ke meja registrasi, cek golongan darah, dan cek Hb. System cek Hb nya pun masih manual, hanya melihat tetesan darah kita mengambang atau tenggelam ketika dimasukkan ke cairan tersebut. Kalau dia mengambang, tandanya Hb nya rendah. Begitu pula sebaliknya. Nah saat darah gue diteteskan ke cairan itu, darah gue tenggelam ssih, tapi terus berhenti di tengah jalan, bagaikan hidup segan mati tak mau. Setelah petugas yang menangani gue berkonsultasi dengan kawannya, tentang boleh ga gue donor dengan keadaan darah sedemikian rupa. Akhirnya mereka mengizinkan gue untuk donor, dan gue lanjut ke cek tahap selanjutnya, cek tensi. Tensi normal, 120/80. Lanjut cuci tangan, dan masuk ke ruang donor. Proses donor pun dimulai. Ga ada drama apapun sih selama donor. Semua berjalan dengan normal, sampai gue balik ke jurusan, dan drama was begun. Begitu jalan dari parkiran motor ke gedung jurusan, gue mendadak keliyengan, badan lemas, dan gue ga sanggup berdiri sama sekali. Nyaris pingsan rasanya. Akhirnya dengan sisa tenaga yang gue punya, gue berusaha balik kerumah dan istirahat, dengan harapan besok udah sehat. Ternyata gue salah besar. Besoknya, keadaan gue justru semakin memburuk. Semakin ga bisa berdiri, dan kepala muter muter ga jelas. Keadaan itu ga Cuma gue alami sehari doang. Sampai seminggu gue berada di keadaan yang super absurd.

Setelah kejadian itu, gue memutuskan untuk istirahat dari niat gue untuk ikut donor darah. Tapi Alhamdulillah, kejadian itu ga ngebuat gue kapok untuk donor darah. Sampai akhirnya di bulan Februari 2014, gue diajak kawan gue Elissa untuk donor darah. Gue pun dengan semangat berangkaat ke PMI bareng doi. Begitu sampai, isi formulir, lanjut ke meja registrasi untuk cek golongan darah dan Hb. Pas cek golongan darah, darah gue belum berubah. Masih A haha. Pas cek Hb, nah cek nya udah pake alat gitu, jadi nilai Hb yang keluar bakal lebih akurat. Lanjut, Hb gue pun di cek. Dan guess what? Hb gue saat itu hanya 8,9 dari nilai Hb minimum 12,5. Sedih? Banget! Again, gue cuma bisa ngawanin kawan gue untuk donor. Saat itu, berharap supaya someday, gue bisa donor darah lagi.

Kenyataan emang jarang yang bisa sesuai dengan ekspektasi. Pengennya sih rajin donor. Tapi apadaya, tiap ke PMI, ataupun stand mobil PMI yang dibuka di bazaar bazaar, gue selalu gapernah bisa donor. Jangan Tanya berapa kali, karena jawabannya bisa puluhan kali. Dan dari puluhan kali penolakan PMI terhadap diri gue, alasannya selalu sama: Hb gue rendah. Paling tinggi dari yang pernah gue cek Cuma 11,6. Kegagalan itu ga membuat gue menyerah. Berbagai car ague lakuin supaya gue bisa donor lagi. Mulai dari makan daun ubi dan telor rebus tiap pagi, sampai gue rutin minum suplemen penambah darah. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Nilai Hb yang ditunjukkan oleh alat alat itu ga pernah bisa melebihi batas minimum Hb yang ditentukan. Dan again, gue ditolak sama PMI.

Tapi emang dasarnya gue emang batu sih, jadi penolakan penolakan itu ga pernah berhasil ngebuat gue nyerah. Rutin gue dating ke PMI untuk ngecek apakah gue bisa donor atau ga.

Terakhir donor September 2013, dan selalu mengalami penolakan, sampai akhirnya kemarin, 30 Maret 2017 gue berhasil donor! Yeayyy! Bahagia? Banget! Ada rasa puas terhadap diri gue sendiri, walaupun sebenernya sempat hopeless begitu jalan ke meja registrasi. Tapi Alhamdulillah, Hb gue bisa melebihi nilai minimum, bahkan sampai 13,9!

Gue ga berniat pamer ataupun riya. Gue Cuma pengen share, kalo perjuangan itu pasti akan berbuah manis. Apapun itu. Mungkin in my case cuma sekadar donor darah. Tapi buat gue pribadi, selagi itu untuk kebaikan, Insya Allah gue gaakan menyerah. Dan gue nulis ini, untuk jadi pengingat untuk diri gue sendiri. Karena someday, gue pasti mengalami hal hal syang lebih struggle dari pada donor darah. Dan gue mau, gue, Azmi Prilly Naisa di masa depan, harus tetap semangat menghadapi apapun masalah yang dilewati, sampai akhirnya kelak gue bisa mencapai apa yang gue inginkan. Semangaat!!!

Selasa, 28 Maret 2017

tidak-siap

seminggu yang lalu, gue mendadak cabut ke Jakarta. Tanpa planning yang matang juga sih. Terus, minta cariin sama bokap masalah tempat tinggal. Sampai H-2 keberangkatan, tempat belum fix juga, dan gue mendadak diajakin tinggal di rumah bokap aja, di Depok. gue memilih untuk menolak secara langsung. Ga, bukan gue ga peduli dengan keadaan bokap. Dari lama gue pengen banget tau bokap tinggal dimana, bentuk tempat tinggalnya gimana, fasilitas bokap disana gimana, nyaman ga, aman ga, rapi atau ga, gimana lingkungannya, pengen banget tau itu semua.

Tapi,

Gue ga siap. Sama sekali ga siap. Ketemu bokap tahun kemarin aja rasanya kayak mimpi. Karena setelah 8 tahun, gue gapernah sama sekali ketemu. Setelah 8 tahun, akhirnya gue bisa salim lagi dengan bokap. Apalagi harus satu rumah dengan bokap? Kalau dirumah itu cuma ada bokap, mungkin gue mau. Tapi, keadaannya ga semudah itu. Disana, gue harus ketemu dengan istri barunya, dan juga anak - anak dari istri barunya itu. Itu yang sama sekali membuat gue sama sekali ga siap. Sekalipun gue penasaran dengan anak - anaknya disana, tapi ketidaksiapan gue mengalahkan rasa penasaran gue.

Ahhh, kalau diingat - ingat, gue justru ngerasa gagal, gue ngerasa kalah sebagai kakak. Wawa, justru udah ketemu dengan anak - anak papa dari istri barunya, sambil nemenin mama kerumahnya dulu. Sedangkan gue, hanya bisa dengar cerita dari nyokap dan Wawa doang. Huuuhhh, betapa tidak dewasanya gue. Terus menerus kabur dari kenyataan yang harusnya bisa gue hadapi. What should I do?

Padahal kata mama, anak pertamanya, yang ternyata namanya sama dengan almarhum kakak gue, mirip banget dengan wajah dan polah almarhum kakak gue. Dari dulu, gue pengen banget ketemu kakak gue, dan ternyata Allah masih kasih copy-an kakak gue. Tapi demi apapun, gue ga siap.

Gimana caranya gue mngatasi ketidaksiapan gue yang satu ini?