Minggu, 11 September 2016

Praktik Kerja Lapangan (part 1)

Dari sekian banyak daftar yang ingin gue kenang, hal pertama yang sangat ingin gue tulis adalah kenangan selama PKL. Kenangan selama PKL itu sangat membekas di sanubari (?) benar benar sulit dilupakan. Bahkan dari sebelum keberangkatan.

Dari setelah kami dinyatakan diterima PKL di PT. Krakatau Steel (PERSERO) Tbk., kami langsung dihadapkan oleh masalah yang (dengan dramanya dianggap) besar. Gimana enggak, di surat balasan dari KS tertulis bahwa kami WAJIB menghadiri pembekalan mengenai keselamatan kerja dari K3LH di aula gedung Human Capital Development pada 4-6 Januari yang dengan (kampret) kebetulan, itu hari pertama gue UAS, dan gue ada jadwal UAS. Tindakan pertama yabg dilakukan jelas langsung telepon pihak KS, meminta keringanan masalah pembekalan. Tapi ternyata nihil. Pihak KS sama sekali tidak memberi keringanan untuk urusan ini. Akhirnya masuklah kami ke opsi kedua, lobi dosen yanga ada ujian dari hari senin - kamis.

Oh iya, gue PKL disana ga sendiri. Gue PKL berempat, bareng Dian Kartika Ratnasari, Elissa Puspita, dan Nabilah Rafidiyah. Gue dan Dian ambil KBK instrumentasi, sedangkan Elissa dan Nabilah KBK material. Si Elissa sama Nabilah masih aman di tanggal 4 - 6 Januari. Tapi gue dan Dian ternyata tidak seberuntung itu. Senin ternyata ada UAS Sistem Pengaturan dengan pak Gurum dan selasa ada UAS Elektronika Digital dengan ibu Suci. Sedangkan kamis ada UAS fisika komputasi dengan bu Yanti. Jadilah gue lobi masalah UAS ke pak Gurum, boleh susulan. Hari pertama aman. Kemudian lanjut ke bu Suci, masih aman. Setelah aman dengan dua dosen tersebut, gue dengan PD nya menghadap ke bu Yanti dengan keyakinan akan diberikan keringanan. Tapi ternyata, permintaan gue ditolak mentah - mentah oleh beliau. Baiklah, kembali putar otak. Akhirnya diperoleh jalan tengah yaitu berangkat ke Cilegon untuk pembekalan hingga hari Rabu, kemudian di hari Rabu izin setengah hari lalu pulang ke Lampung, sampai lampung tengah malam, dan pagi langsung ikut ujian fisika komputasi. Kemudian izin dengan pihak KS tentang rencana ini, dan alhamdulillah di ACC. Setidaknya gaada yang perlu di korbankan kecuali kantong karena harus bolak balik Lampung - Cilegon.

Problema selanjutnya adalah, berangkat ke Cilegon kapan, naik apa, disana gimana. Kalo untuk tempat kost alhamdulillah udah dapet channel dari kakak tingkat, yang (katanya) tinggal terima beres, alias uang sewa kost itu udah plus makan sehari dua kali plus laundry. Tapi berangkatnya gimana ? Naik apa? Jam berapa? Siapa aja yang barengan? Setelah mengadakan rapat (ceilah) berempat diperoleh keputusan kalo gue, Elissa dan Dian bakal berangkat hari minggu, 3 Januari ngeteng, dan Nabilah yang dianter ibunya berangkat duluan, pesawatan.

Skip ke 3 Januari, niatan awal berangkat jam 8, tapi entah kenapa hari itu magernya luar biasa. Akhirnya berangkat dari kosan jam 10an. Berangkat ke Rajabasa dengan berbekal dianter pak flamingo alias motor Ridho, terus langsung cari bis dengan tujuan Bakauheni. Harga bis nya ternyata murah loh, AC 35ribu dan nonAC 27ribu. Setelah rembukan, dipilih lah berangkat dengan naik bis nonAC yang bangkunya 3-2 jadi bisa duduk bertiga. Perjalanan dimulai, dan gue minum antimo. Jaga jaga takut mual dijalan haha. 4 jam duduk di bis sampe tepos, sampailah kita di Bakauheni. Terakhir ke Bakauheni waktu kelas 3 SMA, dan berasa banget perubahannya, sekarang lebih bagus yak (norak). Terus masuk lah ke bagian tiket, dan ada tulisan wajib menunjukkan KTP agau kartu identitas lainnya. Panik atgack menyerang, secara KTP, KTM, dan semua kartu identitas gue udah ilang bersama dompetnya. Untungnya, ternyata beli tiketnya bisa diwakili jadi 1 rombongan itu cukup 1 kartu identitas. Jadilah gue dan Elissa mengorbankan Dian untuk beli tiket dengan alasan dia yang udah pernah beli tiket kapal haha (devillaugh). Setelah lancar beli tiket, langsung jalan ke dermaga. Masuk ke kapal daan, langsung kecewa karena kapalnya (ehhmm) ga bagus. Ngemper lah kami di pinggiran kapal. Kapal pun jalan, dan begitu sampai di Merak, si kapal masih harus antre dermaga karena ga ada dermaga yang kosong. Keseell, badan udah capeek banget rasanya. Di kapal udah 4 jam, nunggu dermaga hampir 2 jam, tapi ga ada perubahan, kapal cuma maju mundur cantik. Gue, Dian, dan Elissa mencoba menghibur diri dengan memandang laut lepas. Menebak - nebak apa fungsi bangunan - bangunan aneh di pinggir laut, sampaj akhirnya kami melihat sunset dari atas kapal. Cantik banget sunsetnya. Sayangnya fotonya entah ada dimana haha. Gue cuma berdoa fotonya ga kehapus aja. Kemudian, adzan maghrib berkumandang, dan ga lama kapal bersandar. Alhamdulillah. Kami langsung turun kapal dan ke pintu keluar, cari angkot. Yaaa sesuai petunjuk dan hidayah (lebay) kami harus naik angkot warna merah dari Merak dan bilang "Krakatau Junction ya pak" begitu sama supirnya. Naik angkot kurang lebih 30 menit, dan kami sampai di Krakatau Junction. Setelah turun, bingung lah kami harus kemana. Akhirnya tanya satpam alamat yang akan kami tuju, dan diarahkan tujuannya. Kampretnya, jalan yang ditunjukkin satpam itu gelap banget! Minim penerangan. Jadi seram sendiri apalagi sedang di tanah orang. Belum lagi ibu kostnya sulit dihubungi, rasanya lengkap sudah penderitaan malam itu -____-" mana ga ada orang yang bisa ditanya. Akhirnya kami nanya dengan kakak tingkat yang PKL sebelum kami, daa dikasih petunjuk ciri - ciri rumah si ibu kost nya. Ketemu! Tapi dipanggilin ga keluar keluar, kayak ga ada orang. Karena lelah teriak teriak, akhirnya nyoba telepon ibu kost, dan benar saja, ibu kost nya lagi di pantai Anyer, yamg ada dirumah anak dan suaminya yang asik nonton tv, jadi ga dengar panggilan kami. Akhirnya, dengan nekatnya kami gedor pjntu gerbangnya, gue pukul pukul gembok ke pintunya, dan akhirnya si anaknya ibu kost keluar. selesai sudah penderitaan malam itu. Setelah basa basi sedikit dengan bapak kost dan anaknya, kami pun dipersilahkan masuk kamar dan disiapkan makan. Setelah mandi, makan, kami pun teparr, langsung tidur.

Keesokan harinya, kami bangun pagi dengan penuh semangat. Hari pertama PKL harus memberikan kesan baik dong haha. Setelah perkenalan dengan ibu kost dan tanya tanya alamat yang akan kami tuju, kami pun berangkat ke tempat pembekalan. Kami pikir yang ikut pembekalan ga akan rame rame amat, ternyataa, ramee menn. 200 orang, yang ternyata 3/4 nya adalah anak SMK. Posisi duduk kami pun dipisah antara anak SMK dan anak kuliah. Saat pembekalan pun kami mendapat teman baru dari berbagai universitas. Dua hari pembekalan berlalu dengan lancar, hingga kami dinyatakan lulus pembekalan dan dianggap siap terjun ke lapangan untuk melaksanakan KP/PKL. Kami berempat ditempatkan di divisi Maintanance Service / Iron Steel Making and Auxiliary dan divisi tersebut berada di area Slab Steel Plant.

Di hari ke - 3 di KS, dan hari pertama turun ke lapangan, kami dihadapkan dengan masalah baru, kami bingung berangkat ke pabrik naik apa. Sebenarnya ada bis perusahaan. Tapi yang jadi masalah adalah, bis perusahaannya ga cuma satu, dan tujuan bis tersebut pun berbeda - beda ke setiap plant nya. Nanya sama ibu pun ga nemu solusi karena beliau biasa naik mobil kantor. Bermodalkan nekat, kami jalan ke jalan raya, dan ternyata ramai teman teman PKL dari Padang yang sedang menunggu bis perusahaan. Rintangan pertama terlewati. Begitu sampai plant site, kami pun kembali menjadi orang hilang, karena ternyata di gerbang plant site adalah tempat transit bis, yang akan mengantar karyawan ke plant masing - masing. Di setiap bis diberikan nomor sebagai identitas bis tersebut. Kami pun bertanya ke satpam bis nomor berapa yang harus kami naiki, dan dengan polosnya satpamnya bilang beliau gatau. Gemeezzzz sama kumis pak satpam. Akhirnya tanya dengan barbar ke karyawan, sedangkan bis udah mulai berangkat. Setelah ber menit menit bingung, dan bis di area  transit semakin sedikit, salah satu karyawan membantu memberi solusi untuk ikut bis yang dia naiki, lalu turun di jalan depan gang menuju SSP. Menurut dia sih jalan masuknya ga jauh. Kami nurut aja. Setelah turun dari bis, kami hanya lihat jalanan berdebu, dan bangunan tinggumi yang didalamnya banyak balokan baja -___-" ga ada manusia yang bisa dimintai keterangannya alian di tanya tanya Bermodalkan keyakinan, kami jalan menyusuri jalan itu, dan menemukan plang yang bertuliskan "SSP" dengan tanda panah. Girang? Banget! Kami ikuti plangnya, dan ketemu karyawan. Kami tanya beliau ruangan pak Sularto, yang merupakan destinasi utama kami (haha) dan bapak tersebut memberikan petunjuk gedungnya. begitu sampai di gedung yang dimaksud, kami bingung (lagi). Dan untungnya ada bapak bapak karyawan yang bisa dijadikan sasaran bertanya, dan bapak itu tanpa segan mengantarkan kami sampai ke ruangan pak Sularto. Alhamdulillah.

Setelah bertemu pak Sularto, basa basi sedikit, kemudian kami dikenalkan dengan pembimbing kami. Elissa dan Nabilah dengan pak Dayat, gue dan Dian dengan pak Solikhin. Tapi sebelum ke pak Solikhin, kami diantarkan ke pak Teguh terlebih dahulu, dan pak Teguh dengan baik hatinya mau mengantarkan kami keliling pabrik dan mengenalkan kami sedikit mengenai bagian bagian mesin pabrik. Setelah puas berkeliling, kami pun kembali ke ruangan pak Sularto. Elissa dan Nabilah masih dengan pak Dayat, dan mereka sedang perkenalan dengan MT. Apa itu MT? Next deh ceritanya, bakalan panjang kalo cerita mereka haha. Setelah mereka selesai perkenalan, pak Dayat berencana mengajak keliling pabrik setelah makan siang. Tapi karena dikejar waktu, kami terpaksa menolaknya karena harus izin untuk langsung kembali ke kosan yang berarti langsung pulang ke Lampung. Pihak kantor pun langsung mengizinkan, tapi permasalahannya, kami gatau keluar plant site naik apa, belum lagi dari gerbang plant site sampai jalan raya jaraknya bukan main jauhnya. Tapi namanya rezeki sih ya, pak Sularto pun menawarkan tebengan karena kebetulan beliau ingin pulang kerumah untuk mengambil berkas. Kami pun pulang ke kostan, istirahat sejenak, dan besiap pulang ke Lampung. Akhirnya sekitar jam 2 kami keluar kosan, naik angkot ke Merak, beli tiket, dan pulang. Pas pulang, lagi lagi kami terpisah. Nabilah doang sih yang terpisah. Dia pulang dengan ibunya, dan gue, Dian, Elissa ngeteng. Untungnya, kapal pas pulang ini nyaman banget. Ada tempat lesehannya, yang full busa jadi nyaman buat tidur hehe. Ada home theatre lengkap dengan film yang keren. Dan perjalanan pulangnya jauh lebih cepat dari berangkat! Hanya 5,5 jam dari keluar kost hingga sampai di Rajabasa. Rasanya itu, 6 Januari 2016 ditutup dengan sempurna, dan kami pun melaksanakan UAS denhan tenang dan nyaman 💕

Tidak ada komentar:

Posting Komentar