seminggu yang lalu, gue mendadak cabut ke Jakarta. Tanpa planning yang matang juga sih. Terus, minta cariin sama bokap masalah tempat tinggal. Sampai H-2 keberangkatan, tempat belum fix juga, dan gue mendadak diajakin tinggal di rumah bokap aja, di Depok. gue memilih untuk menolak secara langsung. Ga, bukan gue ga peduli dengan keadaan bokap. Dari lama gue pengen banget tau bokap tinggal dimana, bentuk tempat tinggalnya gimana, fasilitas bokap disana gimana, nyaman ga, aman ga, rapi atau ga, gimana lingkungannya, pengen banget tau itu semua.
Tapi,
Gue ga siap. Sama sekali ga siap. Ketemu bokap tahun kemarin aja rasanya kayak mimpi. Karena setelah 8 tahun, gue gapernah sama sekali ketemu. Setelah 8 tahun, akhirnya gue bisa salim lagi dengan bokap. Apalagi harus satu rumah dengan bokap? Kalau dirumah itu cuma ada bokap, mungkin gue mau. Tapi, keadaannya ga semudah itu. Disana, gue harus ketemu dengan istri barunya, dan juga anak - anak dari istri barunya itu. Itu yang sama sekali membuat gue sama sekali ga siap. Sekalipun gue penasaran dengan anak - anaknya disana, tapi ketidaksiapan gue mengalahkan rasa penasaran gue.
Ahhh, kalau diingat - ingat, gue justru ngerasa gagal, gue ngerasa kalah sebagai kakak. Wawa, justru udah ketemu dengan anak - anak papa dari istri barunya, sambil nemenin mama kerumahnya dulu. Sedangkan gue, hanya bisa dengar cerita dari nyokap dan Wawa doang. Huuuhhh, betapa tidak dewasanya gue. Terus menerus kabur dari kenyataan yang harusnya bisa gue hadapi. What should I do?
Padahal kata mama, anak pertamanya, yang ternyata namanya sama dengan almarhum kakak gue, mirip banget dengan wajah dan polah almarhum kakak gue. Dari dulu, gue pengen banget ketemu kakak gue, dan ternyata Allah masih kasih copy-an kakak gue. Tapi demi apapun, gue ga siap.
Gimana caranya gue mngatasi ketidaksiapan gue yang satu ini?
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus